BAB
I
Pendahuluan
I.
Latar
belakang
Rasulallah SAW adalah suri tauladan
bagi seluruh umat manusia karena beliau adalah manusia yang paling bagus
akhlaknya, Nabi SAW bersabda yang artinya “aku
di utus ke dunia untuk memperbaiki akhlak”. Dengan dasar seperti itu kita
wajib memperbaiki akhlak kita dengan mengambil contoh dari Rasulallah SAW. Akan
tetapi apakah kita sedah mengetahui apa itu akhlak, ruang lingkupnya, serta
ciri-ciri dari akhlak itu sendiri.
Semoga dengan adanya makalah ini kita
semua bisa meahami hakikat dari akhlak itu sendiri, serta bisa mencontoh dari
manusia yang paling baiknya akhlak yaitu Rasulallah SAW. Aaminn.
II.
Rumusan
masalah
1. Apa
pngertian akhlak ?
2. Apa
sajakah ruang lingkup akhlak ?
3. Apa
sajakah manfaat dalam mempelajari akhlak dalam kehidupan sehari-hari?
4. Apa
saja ciri-ciri akhlak ?
III.
Tujuan
makalah
1. Untuk
mengetahui pengertian akhlak
2. Untuk
mengetahui ruang lingkup akhlak
3. Untuk
mengetahui manfaat mempelajari akhlak
4. Untuk
mengetahui ciri-ciri akhlak
BAB
II
PEMBAHASAN
Rasulallah SAW adalah suri tauladan bagi
setiap manusia, terutama akhlaknya yang mulaia Allah SWT berfirman yang artinya
“dan sesungguhnya kamu benar-benar
berbudi pekerti yang agung”.[1]
Maka dari itu sebagi seorang muslim yang sedang berusaha mencontoh akhlak
Rasulallah SAW kita harus berusaha untuk
meniru akhlak beliau. Rasulallah SAW bersabda yang artinya:
“sesuangguhnya termasuk orang yang paling aku
cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah orang
yang paling bagus akhlaknya. Sementara orang yang paling aku benci dan paling
jauh tempat duduknya dari ku pada hari kiamat adalah orang-orang cerewet yang
kebanyakan bicara, orang-orang bermulut pedas, dan mutafaihiqun.” Para sahabat
bertantya, “wahai Rasusullah,kalau
orang-orang cerewet dan bermulut pedas kami sudah tahu, lalu siapa gerangan
mutafaihiqun?” beliau menjawab:”(mereka adalah) orang-orang yang suka berbicara
tinggi dan muluk-muluk (sombong).”[2]
Dan
berikut sedikit pemaparan mengenai apa itu akhlak.
2.1 Pengertian Akhlak
Kata
Akhlak atau Khuluq secara kebahasaan berati budi pekerti, adat, kebiasaan,
perangai, muru’ah atau segala sesuatu yang sudah menjadi tabi’at.[3]
Sedangkan secara terminologi dapat
merujuk kepada berbagai pendapat para pakar di bidang ini. Menurut Imam
al-Ghazali (1059-1111) Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang
menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan
pikiran dan pertimbangan. sedangkan menurut Ibn Miskawaih (w.421 H/ 1030 M)
Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa dan mendorongnya untuk melakukan
perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.[4]
Sedangkan menurut At-Tahawani (w. Abad
11), Kasysyaf Ishthilahat al-funun, mendefinisikan akhlak yang di sebutnya
dengan istilah prilaku (as-suluk) sebagai pengetahuan antara yang baik dan
tidak baik. Dengan kata lain pembahasan akhlakadalah diri manusia dari segi
kecenderungan-kecenderungannya, hasrat-hasratnya, dan berbagai potensi yang
membuat manusai lebih cenderung kepada kebaikan atau keburukan[5].
Selain menurut para pakar pengertian akhlak juga terdapat dalam kitab Dairatul
ma’arif yang secara singkat Akhlak diartikan sifat – sifat manusia yang
terdidik.[6]
2.2 Ruang Lingkup Akhlak
Ruang lingkup pembahasan akhlak adalah
membahas tentang perbuatan-perbuatan manusia, kemudian menetapkannya apakah
perbuatan tersebut tergolong perbuatan yang baik atau perbutan yang buruk. Dengan
demikian, objek kajian akhlak berkaitan dengan norma atau penilaian terhadap
suatu perbuatan yang dilakukan seseorang. Jika kita kaitkan baik atau buruk,
maka ukuran yang harus digunakan adalah ukuran normatif. Selanjutnya jika kita
katakan sesuatu itu benar atau salah, maka yang demikian itu termasuk masalah
hitung atau akal pikiran.
Keberadaan ilmu akhlak sebagai sebuah
disiplin ilmu agama yang sudah sejajar dengan ilmu-ilmu keislaman lainnya,
seperti tafsir, tauhid, sejarah islam, dan lain-lain. Pokok-pokok masalah yang
di bahas dalam ilmu akhlak pada intinya adalah perbutan manusia. Perbuatan
tersebut selanjutnya di tentukan kriterianya apakah baik atau buruk. Dalam
hubungan ini Ahmad Amin mengatakan sebagai berikut :
Bahwa objek ilmu akhlak adalah membahas
perbutan manusia yang selanjutnya perbuatan tersebut di tentukan baik atau
buruk.[7]
Pendapat
di atas menunjukkan dengan jelas bahwa
objek pembahasan ilmu akhlak adalah perbuatan manusia untuk selanjutnya
diberikan penilaian baik atau buruk. Dengan demikian ilmu akhlak adalah ilmu
yang mengkaji suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia yang dalam keadaan
sadar, kemauan sendiri, tidak terpaksa dan sungguh-sunggguh atau sebenarnya,
bukan perbuatan yang pura-pura.[8]
2.3 Manfaat Mempelajari
Ilmu Akhlak
Manfaat mempelajari ilmu akhlak menurut
Ahmad Amin mengatakan :
Tujuan
mempelajari ilmu akhlak dan permasalahannya menyebabkan kita dapat menetapkan
sebagian perbuatan lainnya sebagai yang baik dan sebagian perbuatan lainnya
sebagai yang buruk. Bersikap adil termasuk perbuatan yang baik, sedangkan
perbuatan zalim termasuk perbuatan yang buruk, membayar hutang kepada
pemiliknya termasuk perbuatan baik, sedangkan mengingkari utang termasuk
perbuatan yang buruk.[9] Sedangkan menurut Mustafa Zahri mengatakan
bahwa tujuan perbaikan akhlak itu, ialah untuk membersikan kalbu dan
kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah sehingga hati menjadi suci bersih,
bagaikan cermin yang dapat menerima nur cahaya tuhan.
Keterangan
tersebut memberi petunjuk bahwa ilmu akhlak berfungsi memberikan panduan
kepada manusia agar mampu menilai dan menetukan suatu perbuatan untuk
selanjutnya menetapkan bahwa perbuatan tersebut termasuk perbuatan yang baik
atau yang buruk. Ilmu akhlak juga berguna secara efektif dalam upaya
membersihkan dari perbuatan dosa dan maksiat. Jika tujuan ilmu akhlak tersebut
dapat tercapai, maka manusia akan memiliki kebersihan batin yang pada gilirannya
melahirkan perbuatn yang terpuji. Dari perbuatan yang terpuji ini akan lahirlah
keadaan masyarakat yang damai, harmonis, rukun, sejahtera, lahir dan batin yang
memungkinkan ia dapat beraktivitas guna mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan
akhirat.[10]
Dengan demikian dapat di peroleh
kesimpulannya bahwa ilmu akhlak bertujuan untuk memberikan pedoman atau
penerangan bagi manusia dalam mengetahui perbuatan yang baik atau yang buruk.
Terhadap perbuatan yang baik ia berusaha melakukan nya, dan terhadap perbuatan
yang buruk ia berusaha untuk menghindarinya.[11]
2.4 Ciri Perbuatan Akhlak
A. Perbuatan
akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang sehingga
telah menjadi kepribadiannya.
B. Perbuatan
yang dilakukan dengan mudah tanpa pemikiran, ini tidak berarti bahwa pada saat
melakukan sesuatu perbuatan, yang bersangkutan dalam keadaan tidak sadar,
hilang ingatan tidur atau gila, pada saat yang bersangkutan melakukan suatu
perbuatan ia tetap sehat akal pikirannya dan sadar.
C. Perbuatan
yang timbul yang dari dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan
atau tekanan dari luar, perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan atas
dasar kemauan, pilihan dan keputusan yang bersangkutan.
D. Perbuatan
yang dilakukan dengan sesungguhnya bukan
main-main atau karena bersandiwara.
E. Perbuatan
yang dilakukan dengan ikhlas semata-mata karena Allah SWT, seseorang yang
melakukan perbuatan bukan atas dasar karena Allah tidak dapat dikatakan
perbuatan akhlak.[12]
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kata
Akhlak atau Khuluq secara kebahasaan berati budi pekerti, adat, kebiasaan,
perangai, muru’ah atau segala sesuatu yang sudah menjadi tabi’at. Jadi
kesimpulannya adalah obejk dari pembahsan akhlak adalah segala sesauatu yang
berkaitan dengan tabiat atau kebiasan manusia yang mana kebiasan tersebut lebih
condong kearah mana, apakah kebaikan atau keburukan.
3.2
Daftar Pustaka
Fauqi
hajjaj Muhammad tasawuf islam &
akhlak AMZAH 2013 Jakarta
H.Abuddin
Nata Akhlak
Tasawuf dan karakter mulia Raja grafindo persada Jakarta 2013
Barmawi
umari materi akhlak CV Ramadani 1990
solo
[1]
QS Al-Qolam (68):4
[3]
H.Abuddin Nata “Akhlak Tasawuf dan
karakter mulia“ hal 2
[4]
H.Abuddin Nata “Akhlak Tasawuf dan
karakter mulia“ hal 3
[5]
H.Abuddin Nata “Akhlak Tasawuf dan
karakter mulia“ hal 223
[6]
H.Abuddin Nata “Akhlak Tasawuf dan
karakter mulia“ hal 4
[7]
H.Abuddin Nata “Akhlak Tasawuf dan
karakter mulia“ hal 7
[8]
H.Abuddin Nata “Akhlak Tasawuf dan
karakter mulia“ hal 11
[9]
H.Abuddin Nata “Akhlak Tasawuf dan
karakter mulia“ hal 11
[10]
H.Abuddin Nata “Akhlak Tasawuf dan
karakter mulia“ hal 12
[11]
H.Abuddin Nata “Akhlak Tasawuf dan
karakter mulia“ hal 13
[12]
H.Abuddin Nata “Akhlak Tasawuf dan
karakter mulia“ hal 4-6