Senin, 11 April 2016

akhlak




BAB I
Pendahuluan
I.                   Latar belakang
Rasulallah SAW adalah suri tauladan bagi seluruh umat manusia karena beliau adalah manusia yang paling bagus akhlaknya, Nabi SAW bersabda yang artinya “aku di utus ke dunia untuk memperbaiki akhlak”. Dengan dasar seperti itu kita wajib memperbaiki akhlak kita dengan mengambil contoh dari Rasulallah SAW. Akan tetapi apakah kita sedah mengetahui apa itu akhlak, ruang lingkupnya, serta ciri-ciri dari akhlak itu sendiri.
Semoga dengan adanya makalah ini kita semua bisa meahami hakikat dari akhlak itu sendiri, serta bisa mencontoh dari manusia yang paling baiknya akhlak yaitu Rasulallah SAW. Aaminn.

II.                Rumusan masalah
1.      Apa pngertian akhlak ?
2.      Apa sajakah ruang lingkup akhlak ?
3.      Apa sajakah manfaat dalam mempelajari akhlak dalam kehidupan sehari-hari?
4.      Apa saja ciri-ciri akhlak ?

III.             Tujuan makalah
1.      Untuk mengetahui pengertian akhlak
2.      Untuk mengetahui ruang lingkup akhlak
3.      Untuk mengetahui manfaat mempelajari akhlak
4.      Untuk mengetahui ciri-ciri akhlak





BAB II
PEMBAHASAN
Rasulallah SAW adalah suri tauladan bagi setiap manusia, terutama akhlaknya yang mulaia Allah SWT berfirman yang artinya “dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”.[1] Maka dari itu sebagi seorang muslim yang sedang berusaha mencontoh akhlak Rasulallah SAW  kita harus berusaha untuk meniru akhlak beliau. Rasulallah SAW bersabda yang artinya:
sesuangguhnya termasuk orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling bagus akhlaknya. Sementara orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dari ku pada hari kiamat adalah orang-orang cerewet yang kebanyakan bicara, orang-orang bermulut pedas, dan mutafaihiqun.” Para sahabat bertantya, “wahai  Rasusullah,kalau orang-orang cerewet dan bermulut pedas kami sudah tahu, lalu siapa gerangan mutafaihiqun?” beliau menjawab:”(mereka adalah) orang-orang yang suka berbicara tinggi dan muluk-muluk (sombong).”[2]
Dan berikut sedikit pemaparan mengenai apa itu akhlak.
2.1 Pengertian Akhlak
            Kata Akhlak atau Khuluq secara kebahasaan berati budi pekerti, adat, kebiasaan, perangai, muru’ah atau segala sesuatu yang sudah menjadi tabi’at.[3]  Sedangkan secara terminologi dapat merujuk kepada berbagai pendapat para pakar di bidang ini. Menurut Imam al-Ghazali (1059-1111) Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pikiran dan pertimbangan. sedangkan menurut Ibn Miskawaih (w.421 H/ 1030 M) Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa dan mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.[4]
Sedangkan menurut At-Tahawani (w. Abad 11), Kasysyaf Ishthilahat al-funun, mendefinisikan akhlak yang di sebutnya dengan istilah prilaku (as-suluk) sebagai pengetahuan antara yang baik dan tidak baik. Dengan kata lain pembahasan akhlakadalah diri manusia dari segi kecenderungan-kecenderungannya, hasrat-hasratnya, dan berbagai potensi yang membuat manusai lebih cenderung kepada kebaikan atau keburukan[5]. Selain menurut para pakar pengertian akhlak juga terdapat dalam kitab Dairatul ma’arif yang secara singkat Akhlak diartikan sifat – sifat manusia yang terdidik.[6]

2.2 Ruang Lingkup Akhlak
Ruang lingkup pembahasan akhlak adalah membahas tentang perbuatan-perbuatan manusia, kemudian menetapkannya apakah perbuatan tersebut tergolong perbuatan yang baik atau perbutan yang buruk. Dengan demikian, objek kajian akhlak berkaitan dengan norma atau penilaian terhadap suatu perbuatan yang dilakukan seseorang. Jika kita kaitkan baik atau buruk, maka ukuran yang harus digunakan adalah ukuran normatif. Selanjutnya jika kita katakan sesuatu itu benar atau salah, maka yang demikian itu termasuk masalah hitung atau akal pikiran.
Keberadaan ilmu akhlak sebagai sebuah disiplin ilmu agama yang sudah sejajar dengan ilmu-ilmu keislaman lainnya, seperti tafsir, tauhid, sejarah islam, dan lain-lain. Pokok-pokok masalah yang di bahas dalam ilmu akhlak pada intinya adalah perbutan manusia. Perbuatan tersebut selanjutnya di tentukan kriterianya apakah baik atau buruk. Dalam hubungan ini Ahmad Amin mengatakan sebagai berikut :
Bahwa objek ilmu akhlak adalah membahas perbutan manusia yang selanjutnya perbuatan tersebut di tentukan baik atau buruk.[7]
            Pendapat di atas menunjukkan  dengan jelas bahwa objek pembahasan ilmu akhlak adalah perbuatan manusia untuk selanjutnya diberikan penilaian baik atau buruk. Dengan demikian ilmu akhlak adalah ilmu yang mengkaji suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia yang dalam keadaan sadar, kemauan sendiri, tidak terpaksa dan sungguh-sunggguh atau sebenarnya, bukan perbuatan yang pura-pura.[8]


2.3 Manfaat Mempelajari Ilmu Akhlak   
Manfaat mempelajari ilmu akhlak menurut Ahmad Amin mengatakan :
Tujuan mempelajari ilmu akhlak dan permasalahannya menyebabkan kita dapat menetapkan sebagian perbuatan lainnya sebagai yang baik dan sebagian perbuatan lainnya sebagai yang buruk. Bersikap adil termasuk perbuatan yang baik, sedangkan perbuatan zalim termasuk perbuatan yang buruk, membayar hutang kepada pemiliknya termasuk perbuatan baik, sedangkan mengingkari utang termasuk perbuatan yang buruk.[9]  Sedangkan menurut Mustafa Zahri mengatakan bahwa tujuan perbaikan akhlak itu, ialah untuk membersikan kalbu dan kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah sehingga hati menjadi suci bersih, bagaikan cermin yang dapat menerima nur cahaya tuhan.
Keterangan  tersebut memberi petunjuk bahwa ilmu akhlak berfungsi memberikan panduan kepada manusia agar mampu menilai dan menetukan suatu perbuatan untuk selanjutnya menetapkan bahwa perbuatan tersebut termasuk perbuatan yang baik atau yang buruk. Ilmu akhlak juga berguna secara efektif dalam upaya membersihkan dari perbuatan dosa dan maksiat. Jika tujuan ilmu akhlak tersebut dapat tercapai, maka manusia akan memiliki kebersihan batin yang pada gilirannya melahirkan perbuatn yang terpuji. Dari perbuatan yang terpuji ini akan lahirlah keadaan masyarakat yang damai, harmonis, rukun, sejahtera, lahir dan batin yang memungkinkan ia dapat beraktivitas guna mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.[10]
Dengan demikian dapat di peroleh kesimpulannya bahwa ilmu akhlak bertujuan untuk memberikan pedoman atau penerangan bagi manusia dalam mengetahui perbuatan yang baik atau yang buruk. Terhadap perbuatan yang baik ia berusaha melakukan nya, dan terhadap perbuatan yang buruk ia berusaha untuk menghindarinya.[11] 





2.4 Ciri Perbuatan Akhlak
A.    Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang sehingga telah menjadi kepribadiannya.
B.     Perbuatan yang dilakukan dengan mudah tanpa pemikiran, ini tidak berarti bahwa pada saat melakukan sesuatu perbuatan, yang bersangkutan dalam keadaan tidak sadar, hilang ingatan tidur atau gila, pada saat yang bersangkutan melakukan suatu perbuatan ia tetap sehat akal pikirannya dan sadar.
C.     Perbuatan yang timbul yang dari dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar, perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan atas dasar kemauan, pilihan dan keputusan yang bersangkutan.
D.    Perbuatan yang dilakukan  dengan sesungguhnya bukan main-main atau karena bersandiwara.
E.     Perbuatan yang dilakukan dengan ikhlas semata-mata karena Allah SWT, seseorang yang melakukan perbuatan bukan atas dasar karena Allah tidak dapat dikatakan perbuatan akhlak.[12]
















BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Kata Akhlak atau Khuluq secara kebahasaan berati budi pekerti, adat, kebiasaan, perangai, muru’ah atau segala sesuatu yang sudah menjadi tabi’at. Jadi kesimpulannya adalah obejk dari pembahsan akhlak adalah segala sesauatu yang berkaitan dengan tabiat atau kebiasan manusia yang mana kebiasan tersebut lebih condong kearah mana, apakah kebaikan atau keburukan.



















3.2 Daftar Pustaka
Fauqi hajjaj Muhammad tasawuf islam & akhlak AMZAH 2013 Jakarta
H.Abuddin Nata  Akhlak Tasawuf dan karakter mulia Raja grafindo persada Jakarta 2013
Barmawi umari materi akhlak CV Ramadani 1990 solo


[1] QS Al-Qolam (68):4
[2]  Fauqi hajjaj Muhammad “tasawuf islam & akhlak“  hal 316
[3] H.Abuddin Nata “Akhlak Tasawuf dan karakter mulia“  hal 2
[4] H.Abuddin Nata “Akhlak Tasawuf dan karakter mulia“  hal 3
[5] H.Abuddin Nata “Akhlak Tasawuf dan karakter mulia“  hal 223
[6] H.Abuddin Nata “Akhlak Tasawuf dan karakter mulia“  hal 4
[7] H.Abuddin Nata “Akhlak Tasawuf dan karakter mulia“  hal 7
[8] H.Abuddin Nata “Akhlak Tasawuf dan karakter mulia“  hal 11
[9] H.Abuddin Nata “Akhlak Tasawuf dan karakter mulia“  hal 11
[10] H.Abuddin Nata “Akhlak Tasawuf dan karakter mulia“  hal 12
[11] H.Abuddin Nata “Akhlak Tasawuf dan karakter mulia“  hal 13
[12] H.Abuddin Nata “Akhlak Tasawuf dan karakter mulia“  hal 4-6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar